Sabtu, 05 Januari 2013

Terumbu Karang


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai prospek yang cukup cerah dalam memproduksi rumput laut dan turunannya. Hal ini terbukti beberapa daerah telah menghasilkan berbagai jenis rumput laut yang mampu memasok bahan baku produk primernya. Di beberapa negara timur dan kepulauan pasifik, rumput laut digunakan sebagai sumber makanan, sejumlah besar penduduk daerah maritim secara langsung ataupun tidak langsung mengkonsumsi atau berhubungan dengan berbagai bentuk produk alga laut, dimana rumput laut ini berguna bagi makanan manusia ataupun untuk hewan, juga obat-obatan, agar kultur, dan sebagai sumber bahan baku berbagai industri. Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km2. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia. Dewasa ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat. Terumbu karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%.. Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami. Meskipun faktanya kuantitas perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih tinggi karena buruknya sistem penanganannya. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan tropis yang memiliki produktivitas yang sangat tinggi. Komponen yang sangat penting dalam menyusun ekosistem ini adalah karang batu. Biota-biota lain seperti ikan, moluska, echinodermata dan rumput laut memanfaatkan lingkungan terumbu karang sebagai tempat hidup, membesarkan diri, melahirkan keturunan serta mencari makan.



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana keanekaragaman terumbu karang yang terdapat di pantai Kondang Merak Malang Selatan?
2.      Apa sajakah jenis terumbu karang yang mendominasi di pantai Kondang Merak Malang Selatan?

C.    Tujuan Praktikum
Tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut:
1.      Mengetahui keanekaragaman terumbu karang yang terdapat di pantai Kondang Merak Malang Selatan.
2.      Mengetahui jenis terumbu karang yang mendominasi di pantai Kondang Merak Malang Selatan.

D.    Manfaat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Pengetahuan tentang dunia laut.
2.      Memanfaatkan pembudidayaan botani di laut.
3.      Informasi bagi para produsen tentang dunia laut.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Biologi Karang
Menurut Nybakken (1988), koloni karang merupakan kumpulan dari berjuta-juta polip penghasil bahan kapur (CaCO3) yang memiliki kerangka luar yang disebut koralit. Pada koralit terdapat septum-septum yang berbentuk sekat-sekat yang dijadikan acuan dalam penentuan jenis karang. Polip karang mempunyai mulut yang terletak di bagian atas dan juga berfungsi sebagai dubur, tentakel-tentakel yang digunakan untuk menangkap mangsanya serta untuk membersihkan tubuh. Tubuh polip karang terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan endodermis, yang dipisahkan oleh lapisan mesoglea. Dalam lapisan endodermis, hidup simbion alga bersel satu yang disebut zooxanthella, yang dapat menghasilkan zat organik melalui proses fotosintesis yang kemudian sebagian ditranslokasikan ke jaringan karang. Makanan yang masuk dicerna oleh filamen khusus (mesenteri) dan sisa makanan dikeluarkan melalui mulut. Karang hidup berasosiasi dengan biota lainnya. Dalam kehidupan berasosiasi ini karang berperan sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Hal tersebut disebabkan karena karang bersimbiosis dengan zooxanthellae yang menghasilkan bahan organik, disamping itu karang juga memakan plankton untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Proses perkembangbiakan karang secara vegetatif dilakukan dengan cara membentuk tunas baru. Pertunasan dibedakan menjadi pertunasan intratentakuler yaitu pembentukan individu baru dalam individu lama serta pertunasan ekstratentakuler yaitu pembentukan individu baru di luar individu lama.

B. Klasifikasi dan Bentuk Karang
Klasifikasi karang yang merupakan hewan tanpa bertulang belakang (avertebrata) yaitu sebagai berikut (Veron, 1986) :
Filum         : Coelenterata (Cnidaria)
Kelas         : Anthozoa
Ordo          : Scleractinia (Madreporaria)
Keluarga    : 1. Acroporidae
Genus : Acropora, Astreopora, Anacropora, Montiopora.
2. Agariciidae
Genus : Coeloseris, Gardineroseris, Leptoseris, Pachyseris, Pavona.
3. Astrocoeniidae
Genus : Stylocoeniella
4. Pocilloporidae
Genus : Pocillopora, Palauastrea, Stylophora, Seriatopora, Madracis.
5. Poritidae
Genus : Alveopora, Goniopora, Porites, Stylastrea.
6. Siderastreidae
Genus : Coscinaraea, Psammocora, Pseudosiderastrea, Siderastrea.
7. Fungiidae
Genus : Ctenactis, Cycloseris, Fungia, Halomitra, Heliofungia, Herpolitha, Lithophyllon, Podabacea, Polyphylla, Sandalolitha, Zoopilus.
8. Oculinidae
Genus : Archelia, Galaxea.
9. Pectinidae
Genus : Echinophyllia, Mycedium, Oxypora, Pectinia.
10. Mussidae
Genus : Acanthastrea, Australomussa, Blastomussa, Cynarina, Lobophyllia, Scolymia, Symphyllia.
11. Merulinidae
Genus : Boninastrea, Clavarina, Hydnophora, Merulina, Paraclavarina, Scapophyllia.
12. Faviidae
Genus : Favites, Favia, Barabattoia, Caulastrea, Cyphastrea, Goniastrea, Diploastrea, Leptoria, Leptastrea, Montastrea, Moseleya, Oulastrea, Oulophyllia, Platygyra, Plesiastrea.
13. Dendrophylliidae
Genus : Dendrophyllia, Tubastrea, Turbinaria, Heterosammia.
14. Caryophylliidae
Genus : Catalophyllia, Euphyllia, Physogyra, Plerogyra, Neomenzophyllia.
15. Trachypylliidae
Genus : Trachyphyllia, Welsophyllia.

Berdasarkan pertumbuhan karang (life form), maka variasi bentuk karang
dibedakan menjadi 6 tipe (lihat tabel 1.), yaitu :
1. Tipe bercabang (branching);
2. Tipe padat (massive);
3. Tipe kerak (encrusting);
4. Tipe meja (tabulate);
5. Tipe daun (foliose);
6. Tipe jamur (mushroom).

Tabel 1. Tipe karang berdasarkan morfologi dan contoh gambarnya.
No

Tipe Karang
Morfologi
Contoh Gambar
1.
Tipe bercabang
(branching)

Memiliki cabang dengan
ukuran cabang lebih
panjang dibandingkan
dengan ketebalan atau
diameter yang dimilikinya.

2.
Tipe padat
(massive)

Memiliki koloni yang keras
dan umumnya berbentuk
membulat, permukaannya
halus dan padat.
Ukurannya bervariasi
mulai dari sebesar telur
sampai sebesar ukuran
rumah.
3.
Tipe kerak
(encrusting)

Karang tumbuh merambat
dan menutupi permukaan
dasar terumbu, memiliki
permukaan kasar dan
keras serta lubang-lubang
kecil.
4.
Tipe meja
(tabulate)

Karang tumbuh
membentuk seperti
menyerupai meja dengan
permukaan lebar dan
datar serta ditopang oleh
semacam tiang penyangga
yang merupakan bagian
dari koloninya.
5.
Tipe daun (foliose)

Karang tumbuh
membentuk lembaranlembaran
yang menonjol
pada dasar terumbu,
berukuran kecil dan
membentuk lipatan-lipatan
Melingkar.
6.
Tipe jamur
(mushroom)

Karang terdiri dari satu
buah polip yang berbentuk
oval dan tampak seperti
jamur, memiliki banyak
septa seperti punggung
bukit yang beralur dari
tepi ke pusat.

C. Habitat Karang
Habitat terumbu karang umumnya di pulau-pulau yang memiliki perairan pantai yang jernih, kadar oksigen tinggi, bebas dari sedimen dan polusi serta bebas limpasan air tawar yang berlebihan. Lebih dari 95% pulau-pulau Indonesia
dikelilingi oleh terumbu karang. Penyebaran terumbu karang pada umumnya dapat dijumpai pada perairan yang dibatasi oleh permukaan yang mempunyai isoterm (200C). Terumbu karang biasanya berasosiasi dengan pulau-pulau kecil dan sedang. Pulau-pulau yang lebih besar dan pantai benua kurang menunjang untuk kehidupan karang, karena tingginya sedimentasi, kekeruhan dan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya aliran-aliran sungai ke laut. Pulau-pulau yang jauh dari pantai dan terpencil menunjang terumbu dengan baik dan meluas. Sebaran terumbu karang di Indonesia diwakili dengan baik di sepanjang pantai barat Sumatera kepulauan Indonesia, Kawasan Timur Indonesia dan pantai selatan Jawa.
Faktor-faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup karang antara lain :
1. Suhu
Suhu paling optimal bagi pertumbuhan karang berkisar antara 26o – 30oC.
2. Cahaya
Intensitas cahaya sangat mempengaruhi kehidupan karang yaitu pada proses mfotosintesa Zooxanthella yang produknya kemudian disumbangkan ke polip karang.
3. Kekeruhan air
Kekeruhan akan menyebabkan terhambatnya intensitas cahaya yang masuk ke
dalam air, sehingga mengganggu proses fotosintesa zooxanthella.
4. Salinitas
Salinitas mempengaruhi kehidupan karang, karena adanya tekanan osmosis pada jaringan hidup. Salinitas optimum bagi kehidupan karang berkisar antara
30-35 ‰.
5. Substrat
Planula karang membutuhkan substrat yang keras dan bersih dari lumpur. Substrat ini berperan sebagai tempat melekatnya planula karang yang kemudian tumbuh menjadi karang dan membentuk komunitas yang kokoh.
6. Pergerakan massa air
Pergerakan massa air antara lain berupa arus dan atau gelombang penting untuk transportasi zat hara, larva, bahan sedimen dan oksigen. Selain itu arus dan atau gelombang dapat membersihkan polip karang dan kotoran yang menempel. Itulah sebabnya karang yang hidup di daerah berombak dan atau berarus kuat lebih berkembang dibanding daerah yang tenang dan terlindung.

D. Kondang Merak
Di Kondang merak terdapat beberapa spesies Acropora sp., Montipora sp. dan Favia sp. serta masih banyak spesies yang lain. Jenis karang yang paling banyak dijumpai yaitu Montipora sp.
1.   Genus Montipora
a.    Klasifikasi
Kingdom: Animalia, Phylum: Cnidaria, Class: Anthozoa , Order: Scleractinia, Family: Acroporidae, Genus: Montipora        
Blainville, 1815           
b.   Deskripsi
Bentuk koloni bervariasi, ada yang submasif, laminar, menempel ataupun bercabang. Ukuran koralit umumnya kecil. Septa umumnya memiliki dua lingkaran dengan bagian ujung muncul keluar. Apabila disentuh maka akan terasa tajam. Tidak memiliki columella. Dinding koralit dan coenosteum keropos. Coenosteum memiliki beberapa tipe: Papillae bila coenosteum lebih kecil dibandingkan dengan ukuran koralit, dan tuberculae jika sebaliknya. Apabila berkelompok mengelilingi koralit disebut thecal papillae dan juga ada thecal tuberculae. Tentakel umumnya keluar pada malam hari. Karang yang struktur rangka kapurnya mirip dengan genus Montipora merupakan genus Porites, dan kadangkala sulit untuk membedakannya. Namun pada pengamatan bawah air, struktur internal pada koralit karang genus Porites lebih jelas terlihat dibandingkan dengan karang genus Montipora, dan sebagian besar Montipora memiliki coenosteum yang lebar, sementara Porites tidak memiliki coenosteum. Mungkin koloni seperti piring, bercabang, encrusting untuk agak batu berbentuk. Kadang-kadang, spesies yang sama mungkin memiliki bentuk pertumbuhan yang berbeda, bahkan satu koloni mungkin memiliki bentuk yang berbeda. Koral  yang kecil. Ketika diperluas, polip kecil dari beberapa spesies. Jadi, mereka kadang-kadang disebut karang beludru. Tetapi pada spesies lain, polip sangat kecil bahwa koloni tampak halus dan berbatu. Polip biasanya hanya diperpanjang pada malam hari. Dalam bentuk bercabang, biasanya tips yang putih dan halus, polip kurang.
Peran dalam habitat yaitu, Montipora merupakan salah satu blok bangunan penting dari karang. Bersama dengan anggota lain dari keluarga Acroporidae, Montipora merupakan spesies pembentuk karang. Dengan percabangan bentuk memberikan perlindungan bagi semua jenis hewan termasuk kuda laut, kerang kecil dan semua jenis kepiting.
Manfaatnya meliputi, Montipora karang diambil dari alam liar untuk perdagangan akuarium hidup dan koloni liar sering diambil dari terumbu karang alami untuk memasok permintaan ini. Ada upaya untuk membudidayakan beberapa keras, cepat-tumbuh spesies Montipora untuk perdagangan akuarium hidup sehingga mengurangi tekanan koleksi dari alam. Meskipun dibesarkan captive karang sehat dan lebih mudah untuk merawat spesimen yang dikumpulkan dari alam liar,  Coral beef harganya lebih mahal.
Status dan ancaman yaitu tidak ada karang Montipora kami terdaftar di antara hewan terancam Singapura. Namun, seperti makhluk lain dari zona intertidal, mereka dipengaruhi oleh kegiatan manusia seperti reklamasi dan pencemaran. Sering terinjak oleh pengunjung yang ceroboh, dan terlalu dieksploitasi keberadaannya.







 Gambar 2.1 Montipora folisa (kiri) dan Montipora aequitubercullata (kanan)
(Sumber: Anonim, 20011a )

2.      Genus Acropora
a.    Klasifikasi
Kingdom : Animalia, Phylum   : Coelenterata, Class : Anthozoa, Order : Madreporaria, Famili : Madreporaridae, Genus : Acropora

b.   Deskripsi
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan. Koloni biasanya bercabang, jarang sekali menempel ataupun submasif. Koralit dua tipe, axial dan radial. Septa umumnya mempunyai dua lingkaran. Columella tidak ada. Dinding koralit dan coenosteum rapuh. Tentakel umumnya keluar pada malam hari. Membentuk koloni halus yang menyerupai miniatur hutan bawah air. Mereka selalu menyenangkan untuk bertemu. Mereka kadang-kadang terlihat di banyak pantai kami di wilayah selatan, koloni yang lebih besar lebih sering terlihat di terumbu Selatan terganggu dan terpencil. Genus Acropora memiliki jumlah terbesar spesies karang keras semua. Koloni dilihat biasanya 15-20cm, tapi pantai di dapat terganggu 50cm atau lebih. Ukuran polip terkecil 0.2-05cm. Banyak tumbuh menjadi percabangan bentuk yang mengarah ke nama umum mereka bercabang karang. Untuk beberapa, seluruh koloni sering memiliki rata atas sehingga mereka kadang-kadang juga disebut meja atau karang meja.
Karang Acropora memiliki corallite khas, biasanya di ujung cabang, yang lebih besar daripada corallites lainnya. Corallit baru (disebut corallites sekunder atau radial) muncul dari sisi corallite aksial terus tumbuh ke atas pada ujung cabang. Para corallite aksial tidak memiliki zooxanthellae, tetapi tumbuh dengan cepat seperti yang diberi makan oleh daerah lain dari koloni. Berwarna putih atau berwarna cerah. Sebagai kelompok, karang Acropora beradaptasi dan ditemukan di berbagai habitat dari perairan keruh untuk gelombang-ditumbuk daerah dan beberapa dapat bertahan eksposur rutin pada saat air surut. Acropora melindungi diri dengan mantel lendir tebal yang dapat menyerap UV. Ketika tumbuh akan muncul beranekaragam warna dari luar tubuh karang. Beberapa karang Acropora yang agak rumit dan akan pecah jika mereka mengetuk melawan. Jadi jangan menyentuh mereka, pada kenyataannya, kita tidak boleh menyentuh karang keras hidup. Peran dalam habitat yaitu, karang Acropora merupakan  salah satu blok bangunan penting dari karang. Bersama dengan spesies Montipora, juga anggota keluarga Acroporidae, jumlah karang Acropora yaitu satu-sepertiga dari spesies pembentuk karang. Karang Acropora termasuk beberapa karang keras yang tumbuh paling cepat. Bentuknya bercabang menyediakan perlindungan bagi berbagai hewan, seperti ikan kecil serta kerang kecil. Manfaatnya yaitu, Acropora yang populer dalam perdagangan akuarium hidup dan koloni liar sering diambil dari terumbu karang alami. Upaya untuk berkembang biak dan membesarkan karang Acropora telah berhasil dan diharapkan pasokan ini akan mengurangi koleksi dari alam. Meskipun dibesarkan penangkaran karang Acropora lebih sehat dan lebih mudah untuk merawat spesimen yang dikumpulkan dari alam liar, karang dibesarkan captive lebih mahal. Status dan ancaman yaitu, The IUCN daftar global untuk spesies yang lebih sering terlihat direkam untuk Singapura adalah: Acropora aculeus sebagai Rentan dan Acropora digitifera sebagai Hampir Terancam.
Genus Acropora termasuk karang hermatipik bersimbiosis mutualisme dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae uniseluler (Dinoflagellata unisuler). Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang
Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat Fototropik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Disamping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32 °C.
Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.





 














Gambar 2.2 Acropora
(Sumber: Anonim, 20011b )

3.      Genus Favia
a.       Klasifikasi
Kingdom : Animalia, Phylum   : Coelenterata, Classis : Anthozoa, Subclassis : Hexacorallia, Order: Madreporaria,  Famili : Faviidae, Genus : Favia

b.   Deskripsi
Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.  Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu corallite) dan plocoid.  Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular. Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari.  Struktur rangka kapur genus Favia mirip dengan genus Favites tapi dapat  dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang. Tipe koralit Favites.




 















Gambar 2.3 Favia
(Sumber: Anonim, 20011c)


     

BAB III
METODE PRAKTIKUM


A.    Jenis Praktikum
Praktikum ini merupakan praktikum observasi. Karena dalam praktikum ini tidak terdapat variabel manipulasi, kontrol dan respon.

B.     Waktu dan Tempat
1.      Tempat
Praktikum observasi terumbu karang dilakukan di Pantai Kondang Merak Malang Selatan.
2.      Waktu
Praktikum observasi terumbu karang dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2011, pada pukul 11.00 WIB.

C. Sasaran Praktikum
Sasaran praktikum ini adalah populasi terumbu karang Patai Kondang Merak Malang Selatan.

D. Prosedur Kerja
1. Alat dan Bahan
a.       Alat :
1)      Kantong plastik
2)      Karet gelang
3)      Plot kuadrat
4)      Kotak pencuplik
5)      Kertas Label
6)      Buku identifikasi terumbu karang
7)      Meteran


b.      Bahan :
1)   Formalin 4%
2)   Aquades

2. Langkah-langkah Praktikum
a.       Mengambil sampel terumbu karang.
b.      Pengawetan sampel dengan cara memasukkan sampel ke kantung plastik, diberi formalin 10% dan diberi label (stasiun, plot, tgl).
c.       Mengidentifikasi menggunakan buku identifikasi terumbu karang.
d.      Menghitung indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi terumbu karang.

 







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil
Berdasarkan kegiatan praktikum yang kami lakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.1 Data Terumbu Karang di Pantai Kondang Merak-Malang Selatan
No.
Jenis Terumbu Karang
Jumlah
(individu)
Persentase penutupan (%)
Indeks keanekaragaman
Indeks dominansi
1.
Porites sp.
11
6,43
0,18
0,038
2.
Seriatopora sp.
2
1,17
0,05
0,007
3.
Sponge sp.
2
1,17
0,05
0,007
4.
Favia sp.
18
10,53
0,24
0,062
5.
Agaricia sp.
5
2,92
0,10
0,017
6.
Acropora sp.
64
37,43
0,37
0,219
7.
Otak laut
1
0,58
0,03
0,003
8.
Euphyllia sp.
3
1,75
0,07
0,010
9.
Montipora sp.
47
27,49
0,35
0,161
10.
Psammocora sp.
2
1,17
0,05
0,007
11.
Millepora sp.
1
0,58
0,03
0,003
12.
Briareum sp.
1
0,58
0,03
0,003
13.
Tubipora sp.
1
0,58
0,03
0,003
14.
Diploria sp.
7
4,09
0,13
0,024
15.
Anacropora sp.
3
1,75
0,07
0,010
16.
Galaxea sp.
3
1,75
0,07
0,010

Jumlah
171
100
1,86
0,585

B.     Analisis
Dari data yang kami peroleh dapat diketahui bahwa di Pantai Kondang Merak Malang Selatan terdapat 16 jenis terumbu karang, dengan total jumlah sebesar 171 individu. Jenis terumbu karang yang mempunyai jumlah paling besar ialah Acropora sp. dengan jumlah 64 individu sedangkan jenis terumbu karang yang sedikit yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. yang masing-masing berjumlah 1 individu.  
Berdasarkan nilai persentase penutupan, Acropora sp. mempunyai nilai persentase penutupan yang paling tinggi yaitu sebesar 37,43% sedangkan yang mempunyai nilai persentase penutupan yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,58%.
Berdasarkan indeks keanekaragaman, Acropora sp. mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang paling tinggi yaitu sebesar 0,37 sedangkan yang mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,03.
Berdasarkan indeks dominansi, Acropora sp. mempunyai nilai indeks dominansi yang paling tinggi yaitu sebesar 0,219 sedangkan yang mempunyai nilai indeks dominansi yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,003.

C.    Pembahasan
Berdasarkan analisis diatas dapat dibahas bahwa di daerah pantai Kondang Merak, Malang Selatan banyak terdapat terumbu karang dari genus Montipora, Acropora, dan Favia. Jenis terumbu karang yang mempunyai jumlah paling besar ialah Acropora sp. dengan jumlah 64 individu sedangkan jenis terumbu karang yang sedikit yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. yang masing-masing berjumlah 1 individu.  Acropora sp. mempunyai nilai persentase penutupan yang paling tinggi yaitu sebesar 37,43% sedangkan yang mempunyai nilai persentase penutupan yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,58%, Acropora sp. mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang paling tinggi yaitu sebesar 0,37 sedangkan yang mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,03, dan Acropora sp. mempunyai nilai indeks dominansi yang paling tinggi yaitu sebesar 0,219 sedangkan yang mempunyai nilai indeks dominansi yang rendah yaitu otak laut, Millepora sp., Briareum sp., dan Tubipora sp. sebesar  0,003.
Genus Acropora paling mendominasi karena termasuk jenis karang yang hermatipik. Karang hermatipik bersimbiosis mutualisme dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae uniseluler (Dinoflagellata unisuler). Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang
Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat Fototropik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Disamping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32 °C.
Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.








BAB V
SIMPULAN DAN SARAN


A.    Simpulan
  1. Keanekaragaman terumbu karang di Pantai Kondang Merak Malang tergolong tinggi, ini disebabkan oleh tempat atau lokasi pantai Kondang Merak yang memiliki laut yang masih jernih
  2. Acropora sp. mempunyai nilai indeks dominansi yang paling tinggi yaitu sebesar 0,219 hal ini dikarenakan termasuk karang hermatipik.

B.     Saran
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, kami dapat memberi saran untuk praktikum selanjutnya yaitu pada saat dilakukan identifikasi terumbu karang dilakukan lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam identifikasi.




DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011a. Montipora sp.. Diakses dari www.nmfs.noaa.gov pada tanggal 4 Oktober 2011.
Anonim. 2011b. Acropora sp.. Diakses dari www.nmfs.noaa.gov pada tanggal 4 Oktober 2011.
Anonim. 2011c. Favia sp.. Diakses dari www.nmfs.noaa.gov pada tanggal 4 Oktober 2011.
Nyabakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta: PT. Gramedia.




LAMPIRAN



 

















Favia



 




















Acropora



Montipora


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar